Tuhan dan romantisme itu (2)

Mengapa mereka selalu tuliskan romantisme dalam bait hujan,
kopi,
senja,
purnama,
langit berbintang,
dan hening malam?

Padahal romantisme juga dalam hisap cerutu, uap kacang rebus, wangi pisang goreng, bising siang, dan retak aspal jalan

Mengapa mereka tuliskan romantisme dalam sajak kecupan,
senyum bibirmu,
dan hangat lingkar dekapan?

Padahal romantisme juga pada derai canda, ribut perang mulut, dan gigil subuh hari

Romantisme juga saat berebut kerupuk,
ngaso di pojokan,
antri jamban,
obrolan tepi selokan

Ia ditulis sebagai syair lumpur,
nyeri otot paha,
cucian yang tak kering

Romantisme tak lebih dari sekedar cara untukmu menikmatiNya




draft sepanjang perjalanan Sukabumi-Semarang, kelar TnT#6
wed, nov 2, 2016
-mie-

1 komentar:

Ratna Fitri mengatakan...

aduh maimih ini romantis ya ternyata. huehuehue

Posting Komentar